Senin, 16 Januari 2012

all about deja vu

     Déjà vu merupakan istilah yang kita kenal apabila kita merasakan perasaan pernah mengalami kejadian yang sama sebelumnya. Rasa keingin tahuan akan hal ini memang menarik untuk diperbincangkan. Begitu misterius sehingga membuat penasaran mengapa kita bisa mengalami fenomena unik ini, adakah teori ilmiah yang menjelaskan di balik itu semua.
     Mungkin hampir semua orang mengalami fenomena déjà vu, banyak hal yang sering merasakan berada kesuatu tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, dan perasaan itu timbul bahwa pernah berada ditempat itu sebelumnya. Adalagi perasaan di mana kejadian yang barusan terjadi pernah terjadi sebelumnya dengan kondisi dan kedaan sekitar yang begitu sama.
    Kata  Déjàvu sendiri berasal dari bahasa perancis, yang artinya “pernah melihat”, didenifisikan sebagai pengalaman timbulnya perasaan pernah menyaksikan atau mengalami suatu situasi saat ini, meskipun keadaan dari pengalaman sebelumnya tidak pasti dan tidak dibayangkan. Istilah ini berasal dari seorang peneliti psikis Perancis, Emile Boirac (1851-1917) dalam bukunya yang berjudul L’Avenirdes sciences psychiques  (Masa Depan Ilmu Psikis).
    Semua perasaan itu memang sering melanda dalam pikiran kita, kepercayaan deja vu juga bisa ditinjau dari sisi ilmiahnya. Umumnya para peneliti memandang deja vu sebagai kesalahan persepsi memori, munculnya kesan palsu disaat sebuah pengalaman menjadi “teringat” – semacam ‘sulap tangan’ otak saat memilah secara kolektitf fitur-fitur sebuah pengalaman untuk menimbulkan ingatan masa lalu sehingga menipu pikiran kita seolah-olah kita pernah mengalaminya.

                          Mengapa Deja vu bisa terjadi?


     Secara ilmiah mungkin memang benar déjàvu bisa terjadi karena para ilmuan telah menjabarkan akan fenomena alam yang ada dalam pikiran manusia tersebut. Déjà vu terjadi karena adanya gelombang yang diantarkan ke dalam otak. Gelombang tersebut tercipta setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia. Gelombang ini lalu diterjemahkan ke dalam bentuk implus listrik lalu dikirim ke otak dan dibaca. Tetapi ada kalanya otak kita memiliki sensitivitas yang tinggi sehingga gelombang yang dibaca berupa amplitudo dan frekuensi tertentu tergantung dari kualitas otak kita.
     Contoh sederhananya suatu waktu kita dalam hati mendendangkan sebuah lagu. Lalu kita menyalakan radio dan di radio sedang dimainkan lagu yang sedang kita pikirkan tadi. Langsungkita berpikir “déjà vu”. Padahal ini menunjukkan bahwa gelombang radio yang dikirim oleh stasiun pemancar, selain diterima oleh radio kita, juga dibaca oleh otak kita, karena sifat otak kita yang super sensitif dalam menerima gelombanglistrik itu tadi.

1 komentar:

nela nabila mengatakan...

gak faham :)
aku gak faham yang diomongkan tentang mengapa deja vu bisa terjadi

Posting Komentar

 

the story Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo